Setiap cerita pasti berputar, seperti layaknya sebuah roda. Entah apa yang aku rasakan, aku selalu memahami kesedihan, namun aku selalu tersingkirkan saat bahagia itu terlihat. Apakah aku berlabuh ke tempat yang salah? sehingga kesedihan selalu menghampiriku. Mengapa kebahagiaan selalu terenggut oleh orang lain? padahal aku selalu tabah. Tabah dalam setiap kesakitan hati yang aku rasakan karenamu.
Apa kamu tak mengerti? disini, di hati ini aku benar-benar tulus menyayangimu. Namun, saat kejenuhan mulai menghampirimu, dirimu mengendap-ngendap pergi, diam dan sunyi.
Aku mengerti mungkin ini bukan masaku untuk merasakan bahagia dan ketulusan yang ku beri. Selalu saja orang yang ku cintai pergi begitu saja. Aku mempunyai sejuta rasa sabar untukmu, kala kau sedih, sendu dan bimbang, datanglah padaku, bersandarlah kamu di hatiku lagi.
Mungkin kamu akan merasakan berartinya diriku setelah kamu tahu betapa berartinya orang yang benar-benar tulus mencintaimu, yaitu aku.
Aku dan Dion sudah lama menjalani hubungan ini, sedih senang memang kami lalui bersama, rasanya sungguh indah. Tuhan, inikah indahnya rasa dicintai dan mencintai, kau berikan sejuta rasa yang tak bisa ku lukiskan dengan gambaran sederhanaku. Namun seiring berjalan waktu, mungkin rasa bosan menghampiri Dion. Pada saat itu aku sudah mulai sibuk bekerja, berangkat pagi dan pulang malam menjadi rutinitas baruku selama 1 bulan penuh. Ku tak melupakan Dion, saat sesampainya aku di rumah sekitar jam 9 malam, aku sempatkan untuk bertemu atau sekedar bertukar kabar melalui telpon dengannya.
Sungguh, badanku memang sangat letih, namun saat aku melihat senyumnya seketika rasa lelahku menghilang. Dion bagaikan air dalam hausku. Aku sangat mencintai Dion.
Rutinitas itu aku jalani dengan keadaan baik-baik saja selama 1 bulan, setelah itu entah mengapa Dion berubah terhadapku. Dion yang penuh perhatian, senyum indah yang menyambutku kala lelah, namun kini aku tak merasakan lagi. Perlahan hilang, entah aku tak mengerti sebab yang terjadi, padahal sebisa mungkin aku meluangkan waktu untuk dirinya.
Aku baru menyadari mengapa Dion berubah kepadaku, dia mulai akrab dengan tetangga tempat dia mengekos bernama Desi. Aku sedikit kaget melihat pesan singkat mereka berdua, dan aku hanya menghela nafas dan diam-diam pula aku menangis dalam senduku.
Ya Tuhan, mengapa begini, aku mencintainya, namun rasa jenuh memenangkan hatinya untuk meninggalkan rasanya perlahan untukku. Aku masih bisa bersabar, sejak aku mengetahui hal itu aku mencoba bertahan. Dalam waktu 1 bulan aku bertahan, sesungguhnya aku mampu terus bertahan walau badai menerjang aku tetap mencintainya. Namun, sesak yang aku rasa, tega Dion mengakhiri hubungannya denganku, aku hanya bisa terus bersabar, karena aku mengerti apa yang dia rasakan saat ini padaku.
2 hari kemudian Dion memulai hubungan baru dengan tetangga tempat dia mengekos yang bernama Desi, yang saat itu menjadi kekasih Dion. Meski pedih aku hanya bisa berdoa pada Tuhan, cepat atau lambat kebahagiaan akan menghampiriku, entah hari ini, esok atau lusa, aku percaya Tuhan itu maha adil. Dan aku percaya Tuhan telah menciptakan kebahagiaan untukku.
Aku meninggalkan kota Jakarta untuk memulai studiku di Yogyakarta, aku tetap menanti Dion kembali padaku, semoga ada keajaiban saat aku kembali ke Jakarta. Aku mulai studiku disebuah perguruan tinggi negeri di Jogja, aku mendapatkan beasiswa dan aku mengambil jurusan sastra bahasa indonesia. Selama 4 tahun aku menjalani studiku, dan aku lulus dengan IP 4,00. Aku mulai mencintai Jogja, rasanya tak ingin aku kembali ke Jakarta, kota dimana aku mengenal cinta dan luka. Aku bahagia di Jogja, menjalani hidupku tanpa beban dan mengisi hari-hariku dengan menulis novel dan puisi-puisi yang memang aku menyukainya, maka dari itu aku mengambil jurusan sastra Indonesia.
Tiba-tiba ponselku berdering, nomer tidak dikenal menelponku, berulang kali aku matikan, tetap saja nomor itu menelponku. Pada saat telpon untuk 5 kalinya barulah aku menekan tombol 'ok' dan memindahkan ponselku ke telinga.
Berguncang rasanya mendengar kabar yang aku terima, Dion koma, sudah seminggu Dion tak sadarkan diri. Ternyata yang menelponku adalah Putri adik perempuan Dion. Segera mungkin aku menuju Bandara untuk segera kembali ke Jakarta. Menempuh perjalanan 2 jam hingga sesampainya aku di rumah sakit. Aku masih mencintai Dion, setiap sujud aku tidak pernah lupa menyebut nama kedua orangtuaku, keluarga ku, dan dirinya. Aku baru mengetahui bahwa Dion memiliki kanker pada jaringan syarafnya. Sesak melihat orang yang aku cintai terbaring lemah bertemankan infus dan alat-alat kedokteran lainnya. Aku mulai mendekati Dion, aku genggam tangannya dan tak kuasa aku menahan tangis, akhirnya air mataku mulai turun dan ikut membasahi tangan Dion.
Semua orang yang berada di ruangan itu juga tak kuasa menahan tangis, namun mataku tak melihat seseorang wanita yang bernama Desi, aku dengar dari adik perempuan Dion bahwa Desi meninggalkan Dion setelah Desi tahu Dion mengidap kanker syaraf. Seminggu setelah kedatanganku, aku terus menjenguk Dion, mungkin berkat doa orang yang menyayanginya dia lebih sedikit membaik. Aku mulai menemani dan memberi semangat Dion untuk ikut kemotherapi, aku dan keluarganya sering menemani saat proses khemo.
"Nit, terima kasih untuk semuanya, kamu yang terbaik untukku, maaf jika aku telah menyakitimu, dan kini aku mengerti tentang arti sebuah ketulusan, Anita, aku menyayangimu."
Bulir air mata mulai turun, sekejap aku memeluk Dion dan mengatakan "Aku juga menyayangimu, dahulu, hari ini atau seterusnya aku akan tetap di sisimu".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar